Arsitek di Jakarta | homify

7 Arsitek di Jakarta

Area

Seperti apakah perkembangan arsitektur di Jakarta?


Sejarah perkembangan arsitektur di Jakarta tidak terlepas dari pengaruh kolonialisme Belanda. Hal ini banyak ditemukan pada bangunan yang klasik dan bersejarah di Kota tua, seperti Museum Fatahillah, Museum Bank Mandiri, dan Museum Bank Indonesia.

Pada awalnya, arsitektur bangunan masa kolonialisme digunakan sebagai benteng pertahanan dengan menggunakan material seadanya, seperti batu karang dan kayu. Arsitektur bangunan di Jakarta semakin berkembang, dimulai pada abad 17 dengan penggunaan material batu bata, kemudian pada akhir abad 19 dan 20 terjadi percampuran arsitektur gaya modern dan tradisional Jawa.

Sebagian besar bangunan tua bergaya kolonial di Jakarta dibangun sesuai dengan gaya aslinya di Eropa, namun seiring perkembangannya, bangunan-bangunan kolonial tersebut disesuaikan dengan iklim tropis di Indonesia. Beberapa modifikasi diantaranya cerobong asap semu, menara, dan penggunaan atap pelana.

Anda tertarik untuk membangun rumah atau kamar mandi yang terinspirasi dari gaya arsitektur kolonial, namun tetap disesuaikan dengan kondisi iklim dan geografis di Jakarta? Beberapa poin penting berikut perlu Anda pertimbangkan. 

Pentingkah peran arsitek lokal dalam pembangunan rumah? 

Sebagai seorang profesional, arsitek menguasai teknik konstruksi bangunan yang membuat kualitas bangunan Anda menjadi lebih terjamin. Dengan menggunakan arsitek dan desainer interior, Anda bisa berkonsultasi mengenai bahan baku yang ingin digunakan sesuai dengan anggaran, sehingga tidak ada biaya yang terbuang. Selain itu, Anda bisa mengetahui setiap detail yang diperlukan, mulai dari rancangan, desain, hingga siapa saja yang terlibat, dengan masa kerja yang terjadwal dengan baik sehingga waktu pengerjaan lebih efektif dan lebih cepat selesai. Jika Anda berlokasi di Jakarta, pastikan berkonsultasi dengan arsitek lokal yang memahami desain dan kelayakan bangunan sesuai daerah Anda. 

Mengapa perlu menggunakan jasa arsitek di Jakarta? 


Tidak hanya sekedar membuat desain bangunan, arsitek juga memperhitungkan kondisi lingkungan dan sosial masyarakat di wilayah tersebut untuk menghasilkan kualitas bangunan terbaik. Kota besar seperti Jakarta memiliki kondisi tertentu yang membedakannya dengan daerah lain, seperti infrastruktur, lanskap, iklim, geografis, kondisi tanah, potensi bencana, polusi, dan kemacetan. Arsitek merupakan profesional yang terlatih dan berpengalaman untuk menganalisa dan mengatasi faktor-faktor tersebut, sesuai dengan aturan bangunan yang berlaku di Jakarta. 

Berapa biaya yang dikeluarkan untuk membangun rumah di Jakarta? 

Sebagai pusat perekonomian dan pemerintahan, Jakarta adalah kota yang harga propertinya paling pesat dibandingkan kota-kota besar di Indonesia lainnya. Pada kuartal keempat 2017, indeks harga properti di Jakarta adalah 125,9, naik 1,12% dari kuartal sebelumnya. Jika dilihat secara year-on-year, kenaikan harga properti di Jakarta melebihi indeks secara nasional, yaitu mencapai 9,6%.

Menurut data yang dirilis oleh Indonesia Property Watch pada 2017, diketahui harga tanah tertinggi di Jakarta ada di Jakarta Pusat, yaitu Rp 18,76 juta per meter persegi, sedangkan yang termurah ada di Jakarta Timur, yaitu Rp 7,9 juta per meter persegi. Namun, meskipun demikian, Jakarta Timur mengalami kenaikan harga tertinggi dalam tiga tahun terakhir, yaitu 5,58%. Diikuti oleh Jakarta Selatan sebesar 4,67%, Jakarta Pusat sebesar 4,19%, Jakarta Barat 4,15%, dan Jakarta Utara 2,85% Berikut daftar lengkap harga lahan di Jakarta, mulai dari yang terendah hingga tertinggi: 

• Jakarta Pusat 

Harga Terendah: Rp 8,39 juta per m2 

Harga Tertinggi: Rp 77,16 juta per m2 

• Jakarta Selatan 

Harga Terendah: Rp 5,39 juta per m2 

Harga Tertinggi: Rp 80,9 juta per m2 

• Jakarta Utara 

Harga Terendah: Rp 1,73 juta per m2 

Harga Tertinggi: Rp 38,23 juta per m2 

• Jakarta Barat 

Harga Terendah: Rp 2,8 juta per m2 

Harga Tertinggi: Rp 26,7 juta per m2 

• Jakarta Timur 

Harga Terendah: Rp 1,97 juta per m2 

Harga Tertinggi: Rp 24,33 juta per m2 

 Aturan apa saja yang berlaku untuk membangun rumah di Jakarta? 

Aturan pembangunan berfungsi untuk mengatur agar bangunan terhindar dari ancaman bencana dan kemungkinan adanya pengembangan terhadap area di sekitar bangunan. Bagi Anda yang ingin membangun rumah di Jakarta, berikut 3 Perda yang berlaku:

No. 7 tahun 2010 tentang bangunan gedung No. 1 tahun 2012 tentang RTRW 2030 No. 1 tahun 2014 tentang RDTR dan peta zonasi Ketiga aturan tersebut mencakup beberapa poin penting, yaitu:

Koefisien Dasar Bangunan (KDB): Saat membangun rumah, pemilik bangunan diwajibkan untuk menyisakan lahan sebagai area resapan air untuk mencegah banjir. Perhitungannya ditentukan oleh persentase daerah bangunan dikalikan luas lahan yang dimiliki oleh pemilik bangunan.

Garis Sepadan Bangunan (GSB): Pengaturan tentang batasan lahan yang diizinkan dan tidak diizinkan untuk dibangun. Hal ini ditujukan untuk mewujudkan lingkungan rumah yang sehat dan mengatur jarak antara bangunan dan jalan raya, sehingga privasi dan keamanan Anda lebih terjaga.

Garis Sepadan Jalan (GSJ): Mengatur tentang ketersediaan lahan untuk pengembangan lahan di masa depan.

Koefisien Lantai Bangunan (KLB): Perbandingan antara total luas bangunan dengan luas lahan. Hasilnya bergantung pada kepadatan daerah bangunan, sehingga menentukan seberapa luas lahan yang boleh dibangun, seberapa luas lahan yang boleh dibangun di lantai berikutnya, dan seterusnya. Bagaimana cara memilih tenaga profesional di wilayah Jakarta? Percayakan desain dan renovasi kamar mandi Anda bersama Homify yang memiliki banyak tenaga profesional mumpuni dan berpengalaman di Jakarta. Saatnya berkonsultasi langsung dengan arsitek dan desainer interior kami.